Apakah Perpeloncoan Saat Kaderisasi Masih Relevan?

Apakah Perpeloncoan Saat Kaderisasi Masih Relevan?

Ilustrasi satir dua mahasiswa berdebat di lorong kampus tentang kaderisasi, satu memegang megafon dan satu memegang buku bertuliskan kaderisasi

Perdebatan tentang kaderisasi dan perpeloncoan masih terus muncul di kampus: tradisi pembentukan karakter atau metode lama yang perlu ditinggalkan? (Dok. Ngampus)

Apakah Perpeloncoan Saat Kaderisasi Masih Relevan?

Setiap tahun, pembahasan tentang perpeloncoan saat kaderisasi hampir selalu muncul lagi. Bentuknya mungkin tidak lagi seekstrem dulu, tetapi pola-pola seperti panggilan malam, tugas yang sengaja dibuat rumit, tekanan verbal, atau aktivitas yang terasa lebih menguji mental daripada memberi pembelajaran masih sering ditemukan.

Pertanyaannya bukan sekadar "masih ada atau tidak", tetapi apakah metode seperti itu memang masih dibutuhkan?

Artikel ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi mahasiswa di platform Quora tahun 2026 yang kemudian dianalisis kembali secara lebih luas. Menariknya, banyak pandangan yang memperlihatkan pola berulang: alasan yang dipakai hampir selalu sama dari tahun ke tahun.

Bahkan mungkin Anda pernah mendengar kalimat seperti:

  • "Angkatan sekarang terlalu manja."
  • "Dulu kami juga diperlakukan seperti ini."
  • "Biar mentalnya terbentuk."
  • "Ini bagian dari proses."

Kalimat-kalimat tersebut terdengar masuk akal di permukaan. Tetapi jika dipikir lebih dalam, ada beberapa hal yang layak dipertanyakan.

Mengapa Perpeloncoan Masih Bertahan di Kampus?

Jika dilihat dari luar, banyak orang mengira kaderisasi mahasiswa yang masih mengandung unsur tekanan bertahan karena memang terbukti efektif. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Ada beberapa faktor yang membuat siklus ini terus berulang.

1. Budaya turun-temurun

Alasan paling sering muncul adalah karena tradisi.

Seseorang pernah diperlakukan dengan cara tertentu saat menjadi mahasiswa baru, lalu beberapa tahun kemudian ia menjadi panitia dan mengulang pola yang sama kepada adik tingkatnya.

Masalahnya, tradisi tidak selalu sama dengan kebutuhan.

Tidak semua hal yang diwariskan otomatis relevan dengan situasi saat ini.

2. Anggapan bahwa tekanan membentuk karakter

Ada keyakinan bahwa semakin berat seseorang ditekan, maka semakin kuat mentalnya.

Padahal dalam psikologi, tekanan yang berlebihan justru dapat menghasilkan efek sebaliknya:

  • stres berlebihan
  • cemas
  • menurunnya motivasi
  • munculnya rasa tidak nyaman terhadap organisasi

Tekanan dan tantangan memang berbeda tipis, tetapi dampaknya tidak sama.

Tantangan membantu seseorang berkembang. Sedangkan tekanan yang tidak jelas tujuannya sering kali hanya menghasilkan ketakutan.

3. Siklus balas dendam yang tidak disadari

Ini mungkin bagian yang jarang dibahas secara terbuka.

Sebagian orang sebenarnya tidak benar-benar percaya bahwa metode itu efektif. Tetapi karena dulu mereka pernah merasakannya, muncul pikiran:

"Kalau saya dulu merasakan, mereka juga harus merasakan."

Tanpa sadar, proses pembelajaran berubah menjadi siklus balas pengalaman.

Dan siklus seperti ini bisa berjalan terus jika tidak ada yang berani menghentikannya.

Apakah Metode Tekanan Efektif Membentuk Karakter?

Di sinilah muncul pertanyaan yang lebih penting.

Apakah perpeloncoan saat kaderisasi benar-benar membuat mahasiswa menjadi lebih dewasa?

Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".

Karakter seseorang umumnya terbentuk dari:

  • pengalaman nyata
  • tanggung jawab
  • lingkungan sosial
  • proses refleksi diri
  • kebiasaan jangka panjang

Sementara aktivitas seperti:

  • disuruh mencari barang aneh
  • dipanggil tengah malam
  • dimarahi tanpa alasan jelas
  • diberi tugas tidak relevan

Belum tentu memiliki hubungan langsung dengan peningkatan kedewasaan.

Jika memang tujuannya melatih tanggung jawab, mengapa tidak menggunakan simulasi kerja tim atau proyek nyata?

Jika tujuannya membangun disiplin, mengapa tidak menggunakan sistem evaluasi yang jelas?

Di titik ini sering muncul pertanyaan reflektif:

Kalau mahasiswa sudah dianggap cukup dewasa untuk kuliah, mengapa pendekatannya masih seperti harus "dibentuk paksa"?

Organizational Socialization: Tujuan yang Masih Relevan

Meskipun metode lama mulai dipertanyakan, bukan berarti tujuan kaderisasi harus dihilangkan.

Dalam konsep organizational socialization, seseorang yang baru masuk ke organisasi memang perlu melewati proses adaptasi.

Tujuannya antara lain:

  • mengenalkan nilai organisasi
  • membangun kerja sama tim
  • membentuk rasa memiliki
  • menciptakan identitas kelompok
  • menumbuhkan disiplin

Jadi yang sebenarnya perlu dievaluasi bukan tujuannya, melainkan caranya.

Karena tujuan tersebut memang masih relevan sampai sekarang.

Yang mulai dipertanyakan adalah apakah sistem lama masih cocok untuk mahasiswa 2025.

Perpeloncoan Lama vs Metode Kaderisasi Modern

Aspek Perpeloncoan Lama Metode Modern
Disiplin Tekanan dan hukuman Target dan evaluasi
Kerja tim Instruksi satu arah Kolaborasi proyek
Adaptasi organisasi Senior dominan Mentoring
Pembentukan karakter Tekanan mental Pengalaman nyata
Feedback Jarang ada Dua arah

Alternatif Kaderisasi yang Lebih Relevan di 2025

Kalau pertanyaannya adalah OSPEK relevan atau tidak, jawabannya: masih relevan.

Tetapi bentuknya perlu berubah.

Beberapa alternatif kaderisasi yang mulai digunakan banyak organisasi saat ini:

Mentoring

Mahasiswa baru didampingi senior yang bertugas menjadi pembimbing, bukan pemberi tekanan.

Simulasi kerja nyata

Daripada tugas aneh, peserta bisa diajak:

  • membuat proposal
  • menyusun acara
  • presentasi tim
  • menyelesaikan studi kasus

Feedback dua arah

Mahasiswa baru juga diberikan ruang menyampaikan pengalaman mereka.

Dengan begitu organisasi tidak hanya mendidik, tetapi juga belajar memperbaiki diri.

Sistem penyambutan mahasiswa baru yang lebih manusiawi

Banyak kampus mulai mengubah sistem penyambutan mahasiswa baru menjadi proses adaptasi yang fokus pada:

  • informasi akademik
  • pengembangan soft skill
  • membangun relasi
  • mengenal lingkungan kampus

Bukan lagi sekadar "menguji mental".

Baca juga:

  • Tips Bertahan di Masa OSPEK
  • Organisasi Kampus yang Worth It

FAQ Seputar Perpeloncoan dan Kaderisasi

Apakah semua kaderisasi termasuk perpeloncoan?

Tidak. Kaderisasi adalah proses pembentukan anggota organisasi. Perpeloncoan hanya salah satu metode yang kadang digunakan, dan tidak selalu menjadi bagian wajib.

Apakah OSPEK masih penting?

Masih penting karena membantu mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Yang perlu diperbaiki adalah metode pelaksanaannya.

Kenapa perpeloncoan sulit hilang?

Karena ada budaya turun-temurun, anggapan bahwa tekanan membentuk mental, serta siklus pengalaman yang terus diulang.

Bagaimana cara membentuk karakter tanpa tekanan?

Karakter lebih efektif dibangun melalui tanggung jawab nyata, mentoring, pengalaman organisasi, dan kerja sama tim.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan tentang perpeloncoan saat kaderisasi mungkin bukan soal apakah generasi sekarang terlalu manja atau terlalu sensitif.

Pertanyaan yang lebih menarik justru ini:

Jika tujuan kaderisasi adalah menciptakan anggota organisasi yang lebih baik, apakah cara yang dipakai benar-benar membantu mereka tumbuh?

Karena tidak semua proses yang terasa berat otomatis membentuk karakter. Kadang, sesuatu bertahan lama bukan karena efektif, tetapi karena terlalu sering diulang tanpa pernah dipertanyakan.

Kolom komentar terbuka untuk diskusi, cerita pengalaman kuliah, maupun pendapat kalian.
Tetap gunakan bahasa yang sopan dan nyaman dibaca sesama mahasiswa ya 🙂

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال